2. Skala Industri di Indonesia
Saturday, October 31, 2015
Saturday, October 24, 2015
Format Karya Ilmiah
Urutan halaman untuk karya ilmiah:
Halaman Judul
Berisikan informasi seperti judul karya ilmiah, lambang instansi, nama penulis, nama dosen pangampu, nama instansi, nama fakultas, nama program studi dan kota makalah ditulis.
Kata Pengantar
Biasanya berisi ucapan syukur dan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu menyelesaikan makalah
Daftar Isi
Untuk membuat daftar isi otomatis, setiap judul harus memakai format heading 1, heading 2, dst. Penempatan heading adalah sebagai berikut:
Heading 1: Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Hasil Penelitian, Perhitungan / Pembahasan, Kesimpulan dan Saran.
Heading 2: Latar Belakang, Tujuan / Rumusan Masalah, Hipotesis, Dasar Teori, Metodelogi.
Heading 3 dan seterusnya menyesuaikan dengan karya ilmiah yang dibuat.
Daftar Tabel
Jika jumlah tabel dalam karya ilmiah banyak, maka daftar tabel diperlukan untuk mempermudah pembaca dan penulis mencari suatu tabel. Jika jumlah tabel sedikit maka daftar tabel tidak diperlukan.
Daftar Gambar
I. Pendahuluan
Pada halaman ini berisikan latar belakang, tujuan/rumusan masalah, dan hipotesis.
Latar belakang berisi tentang pengetahuan umum, sejarah mengenai judul karya ilmiah dan alasan membuat karya ilmiah. Tujuan atau rumusan masalah memuat tentang tujuan penulisan karya ilmah, untuk apa karya ilmiah dibuat atau apa yang ingin diketahui dari karya ilmiah tersebut. Tujuan biasanya berupa kalimat pernyataan sedangkan rumusan masalah berupa kalimat tanya. Hipotesis adalah dugaan sementara berdasarkan informasi dari latar belakang.
II. Tinjauan Pustaka
Memuat tentang dasar teori dari penemu dan hasil penelitiannya, metodelogi yang berisi tentang cara penelitian / metode penelitian yang dipakai serta alasannya.
III. Hasil Penelitian
Berisi tentang hasil penelitian yang didapat. Berupa tabel, grafik maupun gambar / foto hasil akhir penelitian.
IV. Perhitungan / Pembahasan
Penjelasan atas hasil penelitian. Jika hasil penelitian berupa angka maka dijelaskan rumus apa yang dipakai untuk menjelaskan hasil penelitian tersebut dan penjelasannya.
V. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan harus menjawab rumusan masalah atau sesuai dengan tujuan di bab pendahuluan.
Saran untuk penelitian sejenis lainnya dicantumkan disini.
Daftar Pustaka
Berisi sumber-sumber untuk penulisan karya ilmiah dengan format: Nama belakang, nama depan.(tahun).Judul.Edisi.Kota:Penerbit
Lampiran
Berupa gambar-gambar penelitian atau tabel yang detail.
Halaman Judul
Berisikan informasi seperti judul karya ilmiah, lambang instansi, nama penulis, nama dosen pangampu, nama instansi, nama fakultas, nama program studi dan kota makalah ditulis.
Kata Pengantar
Biasanya berisi ucapan syukur dan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu menyelesaikan makalah
Daftar Isi
Untuk membuat daftar isi otomatis, setiap judul harus memakai format heading 1, heading 2, dst. Penempatan heading adalah sebagai berikut:
Heading 1: Kata Pengantar, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Hasil Penelitian, Perhitungan / Pembahasan, Kesimpulan dan Saran.
Heading 2: Latar Belakang, Tujuan / Rumusan Masalah, Hipotesis, Dasar Teori, Metodelogi.
Heading 3 dan seterusnya menyesuaikan dengan karya ilmiah yang dibuat.
Daftar Tabel
Jika jumlah tabel dalam karya ilmiah banyak, maka daftar tabel diperlukan untuk mempermudah pembaca dan penulis mencari suatu tabel. Jika jumlah tabel sedikit maka daftar tabel tidak diperlukan.
Daftar Gambar
I. Pendahuluan
Pada halaman ini berisikan latar belakang, tujuan/rumusan masalah, dan hipotesis.
Latar belakang berisi tentang pengetahuan umum, sejarah mengenai judul karya ilmiah dan alasan membuat karya ilmiah. Tujuan atau rumusan masalah memuat tentang tujuan penulisan karya ilmah, untuk apa karya ilmiah dibuat atau apa yang ingin diketahui dari karya ilmiah tersebut. Tujuan biasanya berupa kalimat pernyataan sedangkan rumusan masalah berupa kalimat tanya. Hipotesis adalah dugaan sementara berdasarkan informasi dari latar belakang.
II. Tinjauan Pustaka
Memuat tentang dasar teori dari penemu dan hasil penelitiannya, metodelogi yang berisi tentang cara penelitian / metode penelitian yang dipakai serta alasannya.
III. Hasil Penelitian
Berisi tentang hasil penelitian yang didapat. Berupa tabel, grafik maupun gambar / foto hasil akhir penelitian.
IV. Perhitungan / Pembahasan
Penjelasan atas hasil penelitian. Jika hasil penelitian berupa angka maka dijelaskan rumus apa yang dipakai untuk menjelaskan hasil penelitian tersebut dan penjelasannya.
V. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan harus menjawab rumusan masalah atau sesuai dengan tujuan di bab pendahuluan.
Saran untuk penelitian sejenis lainnya dicantumkan disini.
Daftar Pustaka
Berisi sumber-sumber untuk penulisan karya ilmiah dengan format: Nama belakang, nama depan.(tahun).Judul.Edisi.Kota:Penerbit
Lampiran
Berupa gambar-gambar penelitian atau tabel yang detail.
Sunday, October 11, 2015
Pemisahan Bahan Pangan
Pemisahan bahan pangan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, sesuai dengan bentuknya.
1. Padat dengan padat: memisahkan padat dengan padat mudah dilakukan jika bahan pangan memiliki ukuran yang besar, contoh ubi dengan singkong. Ubi dan singkong dapat dipisahkan satu persatu, tidak dibutuhkan cara khusus. Namun, untuk bahan pangan yang berbentuk butiran akan sulit memisahkannya satu per satu. Karena itulah digunakan cara-cara berikut:
* ditampih: contohnya memisahkan beras dengan batu, biasanya digunakan tetampah dari anyaman
* dirimbang: cara ini dilakukan dengan memanfaatkan beda gaya berat, contoh memisahkan beras dengan pasir. Pasir memiliki gaya berat yang lebih besar daripada beras, jika beras dan pasir direndam dalam air, pasir akan bergerak kebawah.
2. Cair dengan padat: cara yang paling umum digunakan adalah diekstrak atau didestilasi.
3. Padat dengan cair:
contoh pati singkong
* tradisional: cara ini dilakukan dengan mengalirkan pati singkong yang masih tercampur air ke selokan yang sudah diberi sekat-sekat. Pati akan mengendap ke sekat-sekat tersebut dan air akan tetap mengalir. Semakin banyak sekatnya, semakin banyak pati yang dapat dipisahkan dari air. Namun, cara ini dapat mengakiatkan mikroba tumbuh pada pati karena prosesnya yang lama dan dilakukan di ruang terbuka.
*modern: cara yang lebih mudah dan cepat adalah dengan menggunakan mesin yang berputar dengan gaya sentrifugal. Pertama singkong dimasukan dalam mesin sambil dialiri air. Mesin akan berputar hingga mendapatkan pati singkong. Setelah itu pati kembali diputar agar protein pada pati menghilang. Putar lagi hingga mendapatkan pati kering. Protein pada pati dibuang karena protei membuat pati cepat rusak.
1. Padat dengan padat: memisahkan padat dengan padat mudah dilakukan jika bahan pangan memiliki ukuran yang besar, contoh ubi dengan singkong. Ubi dan singkong dapat dipisahkan satu persatu, tidak dibutuhkan cara khusus. Namun, untuk bahan pangan yang berbentuk butiran akan sulit memisahkannya satu per satu. Karena itulah digunakan cara-cara berikut:
* ditampih: contohnya memisahkan beras dengan batu, biasanya digunakan tetampah dari anyaman
| Tetampah Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6c/Nampah.JPG |
2. Cair dengan padat: cara yang paling umum digunakan adalah diekstrak atau didestilasi.
![]() |
| Destilasi Sumber: https://theprincess9208.files.wordpress.com/2012/11/dstilasi-sederhana.jpg |
contoh pati singkong
* tradisional: cara ini dilakukan dengan mengalirkan pati singkong yang masih tercampur air ke selokan yang sudah diberi sekat-sekat. Pati akan mengendap ke sekat-sekat tersebut dan air akan tetap mengalir. Semakin banyak sekatnya, semakin banyak pati yang dapat dipisahkan dari air. Namun, cara ini dapat mengakiatkan mikroba tumbuh pada pati karena prosesnya yang lama dan dilakukan di ruang terbuka.
![]() |
| Mesin dengan gaya sentrifugal Sumber: http://imgusr.tradekey.com/p-5100554-20110406143042/cassava-starch-production-line.jpg |
UTS Project
Cara pembuatan seblak:
Budidaya, analisis kimia, pemanfaatan dan pengembagan sidat:
-Kelompok Serabi, PTP
Thank you for watching
Budidaya, analisis kimia, pemanfaatan dan pengembagan sidat:
-Kelompok Serabi, PTP
Thank you for watching
Sunday, October 4, 2015
Pertumbuhan Mikroba
Pertumbuhan mikroba dapat digambarkan dengan grafik berikut:
Lag phase: Pada tahap ini pertumbuhan mikroba masih lambat
![]() |
| Sumber: http://cronodon.com/sitebuilder/images/Exponential_growth_curve-600x455.jpg |
Exponential Phase: Terjadi pembelahan biner pada tahap ini sehingga pertumbuhan bakteri berkembang pesat. Pertumbuhan ini dapat dihitung dengan 2^x sehingga disebut fase eksponensial.
Stationary Phase: Pada tahap ini, jumlah mikroba yang lahir sama dengan jumlah mikroba yang mati
Decline / Death Phase: Jumlah mikroba yang mati kini lebih banyak daripada jumlah mikroba yang lahir. Lama-kelamaan mikroba akan habis.
Dalam pembuatan wine juga diterapkan konsep ini. Namun, tahukah anda bahwa kadar alkohol yanng dihasilkan melalui proses ini hanya sekitar 8-12%? Untuk menambahkan kadar alkohol, digunakanlah teknik fortified. Cara ini dilakukan dengan mendestilasi setengah dari wine yang sudah dibuat untuk mendapatkan alkohol murni. Setelah itu dicampurkan dengan setengah bagian yang lain untuk menaikkan kadar alkohol. Lakukan terus hingga mendapatkan kadr alkohol yang diinginkan.
![]() |
| Proses Destilasi Sumber: http://assets-a2.kompasiana.com |
Subscribe to:
Posts (Atom)




